Jan
19
Medok
January 19, 2010 | | Leave a Comment

10 Tahun di Jakarta tetap tak bisa menghilangkan medokku. Sore ini aku menelepon CS XL dan diterima seorang pria yang juga medok. Aku merasa lucu saja — pasti aku juga semedok dia — sembari berpikir kok mas satu ini bisa lolos jadi CS? Bukannya CS biasanya menjauhi timbre yang medok?
Jan
18
dekat vs jauh
January 18, 2010 | | Leave a Comment

Ada dua orang pekerja. Satu rumahnya di Tangerang 20 km dari kantor, satunya di Jakarta, sekitar 3 km dari kantor. Keduanya harus tiba di kantor maksimal pukul 9 pagi. Coba tebak, dari keduanya siapa yang akan lebih dulu tiba di kantor?
Jawabnya, 80% benar, yang rumahnya jauh. Karena sadar rumahnya jauh, dan pasti hambatannya lebih banyak dan tak terduga, maka dia akan prepare dengan baik. Dia akan bangun pagi-pagi, berangkat pagi-pagi dan tiba lebih pagi dibanding yang rumahnya dekat. Yang rumahnya dekat akan lebih santai, santai dan akhirnya tiba lebih lambat.
Jan
18
Scanner Diskriminatif
January 18, 2010 | | Leave a Comment

Scanner keamanan yang akan menampakkan gambar ‘telanjang’ telah diperkenalkan di airport internasional. Indonesia juga punya. Tidak semua orang disuruh melewati scanner canggih itu, hanya “orang-orang tertentu” saja.
Pemakaian scanner ini kian intensif setelah percobaan pengeboman pesawat NWA yang gagal 25 Desember lalu di AS.
Organisasi HAM di Inggris, menilai scanner berpotensi melanggar HAM. Alat itu juga melahirkan diskriminasi berdasar ras, etnis dan agama.
Dalam kunjunganku ke Amrik 2 tahun silam, “diskriminasi” itu sungguh kurasakan. Aku dan dua temanku, harus mendapatkan pemeriksaan ekstra karena kami berasal dari Indonesia, yang maybe identik dengan Islam, apalagi aku juga berkerudung. Kami juga harus melewati scanner dan kerudungku juga sempat diperiksa di sebuah tempat. Namun beberapa di antara petugas itu bersikap ramah, mereka minta maaf karena melakukan “pembedaan” ini, mereka berdalih hanya mengikuti prosedur saja.
Dua bule yang ada di tengah rombongan kami yaitu Shawn dan seorang lagi yang tidak kami kenal, juga terpaksa mendapatkan perlakukan ini karena maybe mereka dikira satu grup dengan kami. Sejumlah orang Arab juga mendapatkan perlakuan serupa. Ya, diskriminasi karena stereotipe tertentu itu memang ada.
Jan
3
Kolesterol oh Kolesterol
January 3, 2010 | | 1 Comment

Menurutku sih makananku biasa-biasa saja. Tapi pengecekan kadar kolesterol akhir pekan lalu menunjukkan bahwa kolesterol dalam darahku di atas normal (aku 256 mg, kadar normal 160-200 mg). Wah sempat shock juga, aku yang ’sederhana’ ini kok menderita kolesterol tinggi.
Usut punya usut, ini sepertinya karena aku kebanyakan makan telor. Telor adalah lauk tersering yang kumakan. Bayangkan, kalau digoreng baunya harum, rasanya gurih, harganya gak mahal2 amat, praktis dimakan dan pasti enak. Kalau bingung milih menu makanan, telor adalah alternatif yang paling sering dipilih.
Belum lagi aku suka makan sayur lodeh yang mengandung santan. Meski terkesan biasa, ternyata telor dan sayur bersantan adalah kombinasi yang tidak sehat, jika dimakan berlebihan.
Aku baru saja membrowsing tentang makanan berkolesterol dan ini adalah urutan tinggi kolesterol dari 44 jenis makanan:
29. Santan kelapa: (185 mg/BERBAHAYA)
31. Susu Sapi (250 mg/BERBAHAYA)
33. Coklat/cocoa (290 mg/BERBAHAYA)
34. Mentega/Margarine (300 mg/BERBAHAYA)
35. Jeroan Sapi (380 mg/BERBAHAYA)
38. Telor Ayam (500 mg/BERBAHAYA)
40. Cumi-cumi (1170 mg/PANTANG)
41. Kuning Telor Ayam (2000/PANTANG)
44. Telur Burung Puyuh (3640/PANTANG)
Dec
31
Menangis Itu Sehat
December 31, 2009 | | Leave a Comment
Pakar Kelirumologi Jaya Suprana, Kamis (31/12/2009) pk 16/.35 WIB di TVOne:
Humor (tertawa) tidak selalu sehat. Ada humor yang tidak lucu, yang bikin sebel.
Menangis pasti sehat. Karena tekanan emosional bisa lepas.
Itulah mengapa umur pria 8 tahun lebih muda dibanding wanita karena adanya tradisi bahwa pria pamali menangis.
Jadi, jangan malu untuk menangis. Hiks! Hiks!
Dec
31
Tahun Baru di Masjid
December 31, 2009 | | Leave a Comment
Sebagai orang konservatif plus konvensional (baca: nggak gaul), jelas aku mencari tempat yang aman-aman saja untuk melewatkan malam tahun baru. Tempat aman itu tentu saja: di rumah saja.
Pernah sih melewatkan tahun baru di luar rumah, tapi tentu saja tetap mencari yang aman, yaitu masjid.
Beberapa tahun silam, aku pernah bertahun baru di Masjid Bank Indonesia di Jl MH Thamrin. Saat berangkat dari kediamana di Jl Fatmawati menjelang Isya, wah mencari kendaraan umum sungguh sulit. Mobil dan motor pribadi berseliweran, mengarah ke pusat kota yaitu Monas, Bundaran HI atau pun Ancol.
Akhirnya dapat juga taksi. Waduh, pasti mahal sih, secara macet gitu loh. Sesampai di Jl Thamrin, wah lalu lintas nggak gerak. AKhirnya aku dkk turun dan berjalan kaki menuju masjid.
Tiba di masjid, waa ternyata jamaahnya banyak banget. Buat selonjor saja susah. Tentu saja ini membuatku berpikir bahwa teryata banyak warga Ibukota yang tak ingin berhura-hura di luar dalam merayakan tahun baru. Dan itu menurutku, suatu hal yang bagus. Isi i’tikaf malam itu adalah ceramah dari sejumlah cendekiawan, istirahat, salat malam berjamaah, istirahat, subuhan berjamaah dan ceramah subuh. Saking banyaknya jamaah, suara ceramah tidak terlalu terdengar jelas.
I’tikaf di masjid BI saat itu bekerjasama dengan Daarut Tauhiid (DT). Sementara di luar masjid, bunyi terompet dan klakson bersahutan, ramai sekali.
Secara umum aku kurang bisa ibadah dan menikmati malam tahun baru di Masjid BI karena saat itu aku sedang ‘berhalangan’. SAlahku sih, berhalangan kok maksa i’tikaf. Meski secara umum suasana kala itu kurang oke, tapi setidaknya itu memberiku pengalaman bertahun baru di luar rumah.
Beberapa tahun kemudian, aku bertahun baru juga di Masjid Sunda Kelapa dan suasananya mirip dengan di Masjid BI, bahkan kayaknya rasa tidak nyamannya bertambah-tambah. Mau balik nggak bisa karena jalan supermacet/gak ada kendaraan umum. Namun semoga niat baik bertahun baru di tempat yang baik dicatat sebagai pahala. Amin3x.
Selamat Tahun Baru 2010. Semoga menjadi tahun kemenangan bagi kita semua. Amin3x.
Foto: Masjid BI naqshbandiyun.blogspot.com)
Dec
31
Bersama Prita
December 31, 2009 | | Leave a Comment
Bersama Prita Mulyasari (kedua dari kiri) dkk. Prita mampir ke kantor pada Kamis 31 Desember atas undangan detikforum.
Akhir tahun bukannya kerjaan melandai, tapi malah banyak. Semula ada buku Gurita Cikeas yang booming, lalu ada pemukulan George pada Ramadhan Pohan, lalu Gus Dur wafat, pesawat Sinar Mas jatuh…aduhh,….semoga malam tahun baru nanti keadaan aman-aman saja sehingga bisa istirahat di rumah dengan tenang. Amin3x.
Dec
29
kopi
December 29, 2009 | | Leave a Comment
sebagai bukan penggemar kopi, tentu ke starbuck’s tidak terlalu membuatku kepengin. tapi sore itu aku ke sana untuk ngobrol enak. aku kebagian kopi panas dari program buy one get one. nggak soal, toh aku sudah mengantongi minuman kaleng cap kaki tiga dingin .. wkwkwkw…
tiga jam ngobrol di kafe itu. dan untuk pertama kalinya, kuhabiskan satu gelas plastik kopi yang kuberi gula cukup banyak itu. dampaknya? aku baru tertidur pukul 2 pagi!
aku minum kopi, dengan ukuran seujung sendok, biasanya untuk meringankan sakit kepala. dan selama ini, ‘obat’ tersebut cukup efektif. kurasa ini lebih sehat dibanding aku mengenggak obat daftar G.
Dec
23
Pikiran Lelaki
December 23, 2009 | | Leave a Comment
Dalam sebuah kesempatan berhahahihi, bos berkoar bahwa pikiran lelaki itu ngeres. Liat CD cewe ngintip aja langsung ‘reaktif’. Tentu saja cewe2 yang mendengarnya terkekeh kecil, karena merasa bahwa CD ngintip bukanlah hal yang spesial.
Romy ‘Hipnotis’ Rafael
Suatu ketika, Romy Rafael di acara Hipnotis di SCTV, menghipnosis seorang pria yang sedang duduk di kafe bersama kekasihnya. Sign yang diberikan Romy adalah tampar pipi Anda bila pikiran jorok berkelebat di otak Anda.
Hasilnya? Selama hipnonis berlangsung, cowok itu berulang kali menampar pipinya sendiri tanda bahwa dia sedang memikirkan hal-hal porno. Setelah dia disadarkan oleh Romy, kekasihnya terlihat marah dan ‘menampar’ cowok itu.
Uya Memang Kuya (seperti diceritakan si dia)
Uya Kuya punya acara hipnotis juga di televisi. Materi hipnotisnya lucu karena dia memang komedian. Suatu ketika dia menghipnotis seorang sopir pabrik bakpia di yogyakarta. Uya lalu menanyainya banyak hal, utamanya soal pegawai cewek di pabrik itu.
Salah satu pernyataan pria itu adalah bahwa “…..padet, …..montok.” Bagian …. oleh PH acara sengaja disensor dan diisi suara tiiitt! Namun dari mulutnya bisa ketauan, sesuatu yang sangat sensual. Alhasil, pengakuan si bapak bernama Bagong ini disambut gelak tawa para penonton di sekitarnya. Setidaknya, dua kali bagong menyatakan hal itu.
Dia juga mengaku suka pada seorang karyawati bernama Angel. Uya lalu memberinya sepatu yang dibilangnya HP. “Ini ada telepon dari Angel,” katanya.
Bagong lalu mengambil sepatu itu dan menempelkan pada kupingnya seperti orang bertelepon. Bagong berkata bahwa dia kangen pada Angel dan ingin mengajaknya jalan-jalan. Tak lupa dia mengajak Angel untuk kawin.
Setelah ‘telepon’ ditutup, Uya bertanya padanya,”emang mau diajak jalan2 ke mana?”
“Ke luar kota.”
“Ngapain?”
“Nginep.”
“Nginep di mana?”
“Hotel.”
Uya lalu ngerjain Bagong lagi. “Ini Pak, tangan Angel,” katanya sembari mengangsurkan sepatu. Bagong menerima sepatu itu dan menciuminya dengan penuh nafsu.
wkwkwkwkwkwkwwk…..semua penonton ketawa-ketiwi.
Setelah Bagong disadarkan, dia mengaku tak kenal dengan karyawati bernama Angel.
Foto: di mana ‘tanda cinta’ diletakkan kaum pria?
Dec
19
Menang Undian Harus Siap Modal Dulu
December 19, 2009 | | Leave a Comment
Sebuah surat pembaca yang dimuat di Kompas sebulan lalu membuatku tahu bahwa ternyata menang undian itu tidak murah. Penulis di surat pembaca itu bercerita bahwa dia menang undian di Bank Mandiri (ya semacam Gebyar BCA-lah). Dia mendapatkan sebuah mobil Avanza (glek!).
Dia lantas dihubungi oleh pihak pengelola undian yang menyebutkan bahwa harga mobil itu sekitar Rp 91 juta (kok murah ya, gak sampe Rp 100 jutaan seperti di diler). Pemenang itu harus melunasi pajak 20% (wah tinggi sekale, hitung sendiri aja tuh!).
Setelah dibayar, ternyata mobil tak kunjung dinikmati juga. dia mesti mengurus berbagai syarat lagi yang menguras kantong. Untuk itu, dia menjual harta bendanya yang berharga karena tabungan sudah gak ada lagi.
Dan karena mobil tak juga datang, sementara dia sudah keluar modal puluhan juta itulah, dia menulis surat pembaca di Kompas sebagai rasa kecewa dan menganggap undian itu sebagai penipuan.
Hmmm…ternyata menang undian itu gak mudah ya. Coba kalo menang Mercy seharga Rp 500 juta. Buat pajaknya saja sudah harus modal 1/5 dari harganya. Weleh weleh…