• 9

    Jan

    Mutual Fund aka Reksa Dana

    “Investasi apa yang Anda punya?” tanya petugas marketing bank itu. “Tabungan,” jawabku. “Itu bukan investasi.” Ow! Itulah percakapanku saat hendak membeli produk reksa dana aka RD. Sudah bertahun-tahun aku mendengar nama RD, tapi baru bulan ini aku mempelajarinya baik-baik, bertanya kepada teman, dan mengeksekusinya dalam waktu seminggu. Ini memang bukan produk investasi perdanaku. Selama ini aku juga punya unitlink yang menyatu dengan asuransi, suatu bentuk investasi yang ternyata tidak disarankan oleh banyak perencana keuangan dan ternyata juga tidak memberi imbal yang wah. Wajar bila kemudian aku merasa bahwa RD adalah investasi perdanaku. Yeay! Aku membaca selembar buku di Gramedia semalam. “Investasi (di RD) bukanlah seberapa besar dan
    Read More
  • 7

    Jan

    Pagi Hari

    Tanggal 26 Desember 2014 pagi-pagi, akun membaca tweet seseorang yang mengajak membaca Alfatihah untuk para korban tsunami. Ingatanku pun langsung lari ke 26 Desember 2004 pagi. Saat itu aku sedang piket kerja, jadi aku cukup ‘menghayati’ musibah dahsyat itu.Alfatihah untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Tsunami memang musibah Allah yang dahsyat. Tapi kini Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik. Sejumlah korban yang kini telah dewasa mengaku bahwa Aceh sekarang jauh lebih baik, lebih tertib, lebih rapi. Mereka yang kehilangan anak-istri,kembali menikah dan mendapatkan anak kembar. Dan sebagainya. Tentu di balik kesulitan ada kemudahan, ada kemudahan. Sudah terbukti. Baca: 7 Foto Menarik Perubahan di Aceh Ketika Diterjang Tsunami dan Kini Reuni Menghar
    Read More
  • 28

    Aug

    memory of...

    Bersama dengan teman dari Ambon Express, Kompas, Gatra, MetroTV dan kontri di Rusia di pasar cinderamata di Moskow :)
    Read More
  • 23

    Apr

    Hereafter: Hidup Setelah Mati

    Semalam aku menonton film Hereafter di HBO. Film itu mengisahkan tentang pertanyaan “hidup sesudah mati”. Beberapa pemeran menyebut tidak ada hidup setelah mati. Setelah mati, ya nothing. Tapi tidak bagi seorang dokter ateis yang bekerja 25 tahun di rumah sakit. Setelah melihat kematian yang berulang, dia akhirnya percaya bahwa ada hidup setelah mati. Bagi orang bule atau maybe tidak beragama, hidup setelah mati adalah pertanyaan serius, sampai-sampai difilmkan seperti itu. Tapi tidak bagi orang beragama, yang menyebut kehidupan setelah kematian sebagai salah satu ajaran standar keimanan. Iman itu berarti ada yang tidak bisa dilogika. Kehidupan setelah mati yang misterius, juga tidak terjangkau otak. Nah, itulah gunanya iman, meyakini sesuatu yang kasatmata. Inti pelajaran
    Read More
  • 28

    Feb

    Kota Denda

    Hari ini seperti biasa, aku membaca The Straits Times sekadar untuk update berita dalam rangka pekerjaanku. Di indeks beritanya, terdapat judul tentang hukuman denda akibat melanggar peraturan. Langsung saja aku ingat julukan Singapura sebagai The Fine City alias Kota Denda. Denda di negeri itu antara lain: Not paying your employees their salary ? –> Fine of SGD 5,000 and six months jail term for first-term offenders. Throwing stuff from high-rise apartment might kill someone below –> punishment of imprisonment for a term which may extend to 6 months, or with a fine extend to $2,500, or with both. You can’t just bring Stun Gun or Pepper spray on Singapore streets –> a fine not exceeding $10,000 and imprisonment term extend up to 3 years. JAdi jika ke Si
    Read More
  • 17

    Jun

    Apa Kabar 21 Cineplex?

    Setelah ontran-ontran importir film Hollywood tidak bayar pajak, aku tidak pernah mampir ke bioskop 21 atau pun menjenguk situsnya. Percuma, pastinya tidak ada yang layak ditonton. [kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/we1lph15FKI" width="425" height="350" wmode="transparent" /] Membeli DVD bajakan memang opsi terbaik. Tapi belakangan ini aku justru jarang belanja. Aku sibuk membaca buku dan artikel yang bermanfaat dan mempelajari reseller Synergy. Sementara itu, sejumlah DVD menumpuk di sudut ruanganku, kubeli beberapa waktu silam. Banyak di antaranya merupakan serial. Sejak bulan lalu, sedang tidak mood nonton. Anjloknya penonton bioskop membuat pemasukan pengusaha bioskop dan pajak hiburan daerah merosot tajam. Sekarang, gosipnya, film Hollywood mau masuk lagi. Tapi aku r
    Read More
  • 4

    Mar

    True Story: Heavenly Creatures

    Tak sengaja aku menemukan sebuah film lawas yang katanya merupakan film pertama Kate Winslet, Heavenly Creatures, yang dirilis 1994. Tahun itu aku masih kuliah dan jelas tidak mengikuti perkembangan perfilman (Selama kuliah aku hanya dua kali menonton bioskop). Film ini banyak dipuji dan kemudian melejitkan Winslet. Film ini menarik hatiku karena diadaptasi dari kisah nyata. Aku selalu tertarik film yang terinspirasi ‘true story”. Kisah nyata yang difilmkan itu adalah: Juliet Hulme, kala itu (tahun 1953) 15 tahun, adalah anak rektor universitas Canterbury, Chrischurch, Selandia Baru. (Kota Chrischurch akhir Februari 2011 lalu diguncang gempa dahsyat dan menewaskan 175 orang lebih. Ini merupakan kota kedua terbesar di Selandia Baru). Dia adalah anak yang ceria, banyak cakap,
    Read More
  • 14

    Oct

    Singapore, The Fine City

    Semalam aku melanjutkan membaca buku After Orchard, sisi lain tentang Singapur. Margareta Astaman yang masih berusia belia itu tidak hanya mengkritisi Singapur, tapi juga memujinya. Kesejahteraan yang diraihnya saat ini juga berkat Singapura. Jika dia mengalami reinkarnasi, dia akan mengulangi jalan yang pernah dijalaninya: sekolah 4 tahun di universitas top Singapur yang penuh tekanan hebat, yang menjamin kesuksesan. Salah satu fakta tentang Singapur adalah angka bunuh diri yang tinggi karena gagal dan frustasi mencapai derajat keberhasilan. Tingginya kejadian ini membuat pemerintah menerapkan denda bagi orang yang gagal bunuh diri senilai 5.000 dolar. Singapur memang rajanya denda sehingga dijuluki Singapore, The Fine City. (Fine, bukan berarti baik/bagus tapi denda). Insiden bunuh dir
    Read More
  • 13

    Oct

    After Orchard, Singapura yang Sebenarnya

    15 Menit sebelum gerai tutup, aku mampir ke Gramedia. Membeli buku 5 Menara dan tertarik membeli novel Aku Mata Hari karya Remy Silado yang ternyata sudah mejeng di rak. Tapi aku mengurungkan niat membeli yang terakhir karena aku khawatir, jika aku sudah membeli maka aku tidak akan membaca koran Kompas lagi. Jadinya di detik2 akhir dengan sedikit buru2, aku malah membeli buku seharga Rp 38 ribu, After Orchard. Aku tertarik membelinya karena buku itu bercerita tentang Singapura dari sisi yang lain. Aku pernah mampir ke Singapura namun aku tidak memahami negeri itu. Aku juga ingin tahu seperti apa sih WNI kita di sana, kok banyak banget yang menetap/sekolah di sana? Setiba di rumah, aku langsung membacanya hingga beberapa bab, hal yang jarang kulakukan. Hingga akhirnya aku memutuskan tidur
    Read More
  • 28

    Sep

    Mata Hari

    Mata Hari (bukan Matahari). Nama itu kukenal pertama kali saat aku awal SD, dalam tulisan di majalah mungil jadul bernama Warna Sari, mirip Inti Sari. Kisah itu sangat menarik hatiku yang masih naif, karena menggambarkan wanita asing yang terkenal  namun kok namanya Indonesia sekali? Aku secara khusus menulis sekilas soal Mata Hari baru-baru ini, saat mentranslate berita tentang spion dari Rusia yang menggegerkan Amrik, anna chapman. Ibu Anna berkata, “Putri saya bukan Mata Hari”. Dari situ aku membaca kembali profil Mata Hari secara utuh di Wikipedia. Sekarang, setiap pagi, aku membolak-balik harian Kompas. Artikel yang tak kulewatkan adalah cerbung berjudul Mata Hari di halaman 11. Novel biografi karya Remy Silado itu membuatku seolah melengkapi kenangan masa SD-ku ten
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post